free geoip Sistem Pendekatan Bimbingan Konseling - Bimbingan Konseling

Sistem Pendekatan Bimbingan Konseling

Sistem Pendekatan BK – Dalam proses BK atau bimbingan dan konseling dikenal 2 (dua) sistem pendekatan yang dilakukan, yaitu terdiri dari Directive Counseling dan Non Directive Counseling (Rogers, 1942) [1]. Kedua sistem pendekatan ini mempunyai perbedaan prinsipil dari segi sistem yang dianutnya atau filosofinya. Pendekatan Direktif lebih menekankan pada unsur pemecahan masalahnya, sedangkan pendekatan Non-Direktif lebih menekankan perhatiannya pada unsur kasus client-nya.pendekatan-sederhana-dalam-memahami-manajemen-stratejik-438

1. Pendekatan Direktif

Pendekatan Direktif merupakan layanan bimbingan dan konseling yang bersifat Counseling-centered dimana yang menjadi pemegang peranan utama dalam melakukan proses-proses konseling adalah pembimbing atau konselor. Pembimbing atau konselorlah yang bekerja secara aktif dari mulai proses awal mengidentifikasi masalah yang dihadapi klien selanjutnya melakukan diagnosa terhadap berbagai penyabab masalah sampai mencari alternatif pemecahan masalah dan akhirnya merekomendasikan beberapa pemecahan masalah dan alternatif pemecahan masalahnya, sementara klien tinggal mengikuti apa yang di perintahkan pembimbing atau konselor serta menerima dan menjalankan apa yang disarankan pembimbing atau konselor.
Pembimbing atau konselor dalam hal ini merupakan pihak yang sangat bertanggung jawab atas jalannya bimbingan dan konseling, serta sangat mendominasi proses bimbingan, sementara klien bertindak sebagai pihak yang dibimbing dan sangat pasif menunggu dan sangat tergantung kepada pembimbing atau konselor.
Pendekatan Direktif sangat banyak dianut terutama oleh para psikoanalis yang memandang bahwa konselor harus lebih mampu dari klien oleh karena itu peran konselor sangat menentukan dan sangat aktif dalam mencari solusi, hal ini disebabkan klien dianggap pihak yang sedang bermasalah dan karena itu klien datang dan mencari solusi sementara pribadinya sendiri tidak dapat berfikir secara rasional karena sedang dalam tekanan masalah, maka konselorlah yang harus berfikir aktif memberi bimbingan dan dan mencari alternatif-alternatif solusi bagi klien.
Dalam pendekatan Direktif ini karena peran konselor sangat dominan, maka kualifikasi konselor harus terus ditingkatkan melalui program-program diklat sampai konselor bertaraf expert atau ahli.

2. Pendekatan Non-Direktif

Bimbingan dan konseling yang menggunakan pendekatan Non-direktif dikenal dengan bimbingan dan konseling yang bersifat Client-Centered, dalam arti dalam proses bimbingan dan konseling, pihak klien diberi peranan yang besar dalam proses pelaksanaan bimbingan dan konseling, jadi dalam hal ini klien diberi kebebasan untuk berfikir dan mengungkapkan ekspresinya dan aspirasinya. Konselor hanya perlu memberi rangsangan dan arahan dengan pertanyaan agar klien bersemangat kembali dalam hal ini konselor hanya bertugas menciptakan suasana yang memungkinkan klien untuk berupaya mencari berbagai alternatif terbaik untuk pemecahan masalahnya sendiri. Carl R. Rogers sebagai peletak dasar faham Humanistic dalam bimbingan dan pendidikan berupaya mengembangkan pendekatan ini dan pendekatan ini terus dikembangkan oleh penganut Clint Centered Therapy.

[1] Rogers, C.R., (1942) Counseling and Psychotherapy, Colombus, Ohio : Houghthon Miffin, Chapter V.