free geoip Masalah Yang Dihadapi Dalam Masa Remaja - Bimbingan Konseling

Masalah Yang Dihadapi Dalam Masa Remaja

Manusia mengalami perubahan dan perkembangan dalam hidupnya, perkembangan tersebut dimulai semenjak bayi dilahirkan (masa bayi atau Infacy) sampai memasuki masa kanak-kanak, masa anak bersekolah lalu menginjak masa remaja (Adolescence). Lepas dari masa remaja akan mengalami perkembangan memasuki masa dewasa muda, kemudian masa dewasa dan akhirnya memasuki masa tua.

remaja

Source : google image

Menurut Erikson [1], kepribadian seseorang akan terus tumbuh dan akan terbentuk melalui proses psikososial yang mengalami perkembangan dari fase ke fase. Setiap individu yang terus tumbuh harus bisa menyadari dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya yang akan selalu berkembang dan semakin meluas. Kalau individu tersebut mampu menangani berbagai masalah yang dihadapi pada setiap fase perkembangannya, maka ia akan muncul dengan kepribadian yang sehat yang mampu memahami dan mengaktualisasi dirinya serta memahami dan bisa berintegrasi dengan lingkungannya. Dan sebaliknya kalau individu tersebut tidak mampu menangani masalah-masalah yang dihadapinya maka ia akan larut terbawa arus kehidupan lingkungan masyarakatnya yang terus mengalami perkembangan.
Masa remaja berada pada masa transisi dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan, masa inilah yang rentan dengan masalah-masalah terutama masalah dalam menemukan konsep dirinya yang akan diintegrasikan dengan lingkungan sosialnya. Ruang lingkup masalah remaja berada pada scope (lingkupan) seputar konsep diri, seperti pada sejumlah pertanyaan mengenai siapa aku ini?, akan menjadi apa aku nanti?, apa perananku di masyarakat? Dan seterusnya.
Masalah merupakan sejumlah presepsi yang berada di ranah pemikiran, baik berupa harapan-harapan, keinginan-keinginan, dan lainnya, dibandingkan dengan kenyataan sebenarnya. Kalau presepsi diri yang diintegrasikan menjadi sebuah konsep diri dari individu tersebut sesuai dengan kenyataan sebenarnya, maka ia dikatakan bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah tersebut karena ia berhasil memperoleh kepercayaan diri atas kemampuan dan kecakapannya, dan ia akan dapat mengintegrasikannya seluruh unsur-unsur kepribadiannya dengan lingkungannya, dengan kata lain ia berhasil menemukan identitas dirinya (jati diri). Namun sebaliknya apabila ia mempunyai sejumlah presepsi atau konsep diri yang tidak sesuai dengan kenyataan hidup sebenarnya yang terjadi di lingkungan tempatnya berada, maka ia berada dalam masalah, ia berada dalam konflik internal dalam dirinya sendiri yang akan mempengaruhi langkah-langkah selanjutnya dalam kehidupannya.
Remaja yang salah mempresepsikan tentang dirinya dalam lingkungan masyarakat serta tidak dapat mengintegrasikan unsur-unsur kepribadiannya dalam lingkungannya dikhawatirkan akan mengalami kebingungan atau kekacauan (confusion), mungkin ia akan mengalami frustasi atau depresi, dan terkadang bertindak sesuatu yang bertolak belakang dengan realitas yang seharusnya ia lakukan di lingkungan masyarakatnya. Pada keadaan yang lebih parah mungkin ia akan bertindak ekstrim atau anarkis dengan tidak mengindahkan norma-norma yang berlaku dimasyarakat.
Solusi yang bisa dilakukan untuk membantu para remaja yang belum berhasil menemukan konsep dirinya dan mengintegrasikannya dengan lingkunga sosialnya, serta mengalami kebingungan atau kekacauan ialah tak luput dari peran dan bantuan orang tua dan tantangan bagi para pendidik untuk berusaha membantu menemukan masalah-masalah tersebut dan sedikit demi sedikit membantu memberikan solusi atas masalah yang timbul, sehingga para remaja bisa menumbuhkan kepercayaan dalam dirinya atas kemampuan dan kecakapan mereka, serta bisa menemukan potensi dirinya untuk membangun kemandirian yang diaplikasikan dalam realita untuk menjawab tantangan kehidupan selanjutnya di masyarakat.
Sumber:


[1] Gage, N.L., and Berliner, C.D., (1975) Educational Psychology, Chicago: Rand McNelly, Chapters : 18 : 382)