free geoip Cara Pengukuran Kecakapan dan Kepribadian - Bimbingan Konseling

Cara Pengukuran Kecakapan dan Kepribadian

Cara Pengukuran Kecakapan dan Kepribadian – Di antara alat ukur kecakapan dasar atau inteligensi yang sudah dikenal luas dan banyak digunakan terutama di Indonesia adalah Test Benet Simon yang dikenal dengan nama verbal test yang mulai dikembangkan pada 1905 di Perancis dan direvisi serta dikembangkan lagi di Stannford, Amerika semenjak tahun 1916.

Source : Google Image

Source : Google Image

Pengukuran menggunakan test Benet Simon (verbal test), indeks kecerdasan atau kecakapan dasar umum seseorang dinyatakan dalam I.Q (intelligence quotient) sebagai hasil perbandingan dari jawaban (score) atas berbagai pertanyaan yang sudah dirancang berdasarkan tingkat umur tertentu, yang disebut M.A (mental age atau umur kecerdasan) dengan C.A (chronoligical age, umur kronologis atau umur sebenarnya menurut kelahiran). Adapun rumus untuk menghitung I.Q pada test Benet Simon ini adalah I.Q = M.A : C.A x 100.
Dari penghitungan perbandingan score dari pertanyaan menurut M.A dengan C.A ini dengan jumlah sampel yang dianggap mencerminkan populasinya, berhasil dikembangkan suatu sistem norma ukuran kecerdasan berdasarkan konteks test ini adalah sebagai berikut:

I.Q Persentase dari populasi Klasifikasi
(Percent of poppulation) (Classification)
Over 140 1% genius (jenius)
130-139 2% very superior (sangat unggul)
120-129 8% very superior (sangat unggul)
110-119 16% superior (unggul)
100-109 23% average (normal)
90-89 23% average (normal)
80-89 16% dull average (mendekati normal)
70-79 8% berderline (lambat)
60-69 2% mentally deficient (terbelakang)
Below 60 1% mentally deficient (terbelakang)

(sumber: Woodworth, R.S. and Marquis, D.G., 1957 : 54) [1]

Perhitungan skor I.Q dan prosentasenya dapat sedikit berbeda dengan sumber lain salah satu contohnya C.W Valentine (dalam Soetopo)[2], The Normal Child, and some of His Abnormalities, London: The Whitefriars Press Ltd., Penguin Books, 1956, hal 237 menuliskan skor yang sedikit berbeda dengan yang ditulis Woodworth di atas.

Test I.Q di atas pada konteks ini dirancang untuk orang dengan kelompok umur antara 3 tahun sampai dengan 15 tahun. Tes verbal ini mulai bisa diberikan pada anak yang sudah berumur 3 tahun dengan asumsi pada usia tersebut anak sudah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan menurut tingkat usianya. Sedangkan pada orang yang sudah berumur lebih dari 15 tahun, perhitungan C.A (umur kronologis)-nya diperhitungkan menurut usia 15 tahun ini, karena pada mulai usia 15 tahun ke atas dianggap perkembangan kecerdasannya telah mencapai kemantapan.

Mengenai keakuratan test verbal ini ada beberapa pihak yang mempertanyakannya, seperti Rohwer (1971) mempersoalkan skor test intelijensi anak apakah merupakan refleksi yang akurat dari kemampuan belajarnya atau tidak. Alasan ia mempertanyakan hal ini adalah pada populasi kelompok anak yang berumur sama semisal 3 tahun, apakah mereka mempunyai kesempatan belajar yang sama atau tidak, dalam arti dari sekian banyak anak dalam satu kelompok yang mengikuti test verbal tersebut belum tentu mereka secara seragam memiliki kesempatan yang sama untuk dapat mempelajari apa yang akan ditanyakan kepada mereka.

Salah satu contoh seperti di sekolah, dalam satu kelas, siswa memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapat pelajaran dari guru mereka, dan setelah itu diadakan test untuk mengukur kemampuan mereka, skor test seperti ini dapat dianggap mewakili kemampuan mereka dengan nilai tertentu karena siswa mendapat materi yang sama dan belajar pada rentang waktu yang sama pula. Kondisi ini akan berbeda jika siswa tidak mendapat kesempatan belajar yag sama dari segi isi materi yang dipelajari dan waktu untuk mempelajarinya, tentu skor yang dihasilkan akan dipertanyakan keakuratannya.

Sumber:
[1] Woodworth, R.S. and Marquis, D.G. (1957), Psychology, N.Y.: Holt & Co., Chapter 54.
[2] Drs. Hendyat Soetopo, Keunikan Inteligensi Manusia, 1982, penerbit Usaha Nasional, Surabaya.