free geoip Cara Memotivasi Siswa Aktif Melakukan Konseling - Bimbingan Konseling

Cara Memotivasi Siswa Aktif Melakukan Konseling

Cara Memotivasi Siswa Aktif Melakukan Konseling – Salah satu kendala dalam melakukan bimbingan dan konseling di sekolah adalah masih enggannya siswa mendatangi guru bimbingan dan konseling, dengan alasan yang bermacam-macam seperti perasaan takut, perasaan malu kalau mendatangi guru BK akan dicap siswa bermasalah atau malu kalau nanti masalahnya akan diketahui oleh teman-temannya, serta perasaan ragu apakah guru BK bisa mengatasi masalah pribadinya, dan lainnya. Seorang konselor selain dituntut untuk profesional dalam arti menguasai bidangnya juga dituntut untuk pandai mengarahkan siswa atau klien yang memang bermasalah untuk mau memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling sebagai alternatif pemecahan masalahnya.

download

foto : www.sapulidinews.com

Pada kasus siswa enggan untuk mendatangi guru bimbingan dan konseling disekolah, cara-cara yang disarankan Robinson (1950: 35-44) [1] mungkin bisa diterapkan. cara-cara tersebut diantaranya:

  1. Call them in aproach, yaitu panggil saja semua siswa dari satu kelas, atau satu kelompok tertentu, secara bergiliran dengan cara mewawancarainya satu per satu. Manfaat dari cara pertama ini adalah konselor atau guru BK akan mendapat bahan masukan (input) siswa mana saja yang sebenarnya bermasalah atau perlu dibimbing. Dengan cara ini semua siswa diperlakukan sama sehingga dapat menutupi kelemahan dari sisi siswa tidak mau melakukan bimbingan karena rasa takut atau malu.
  2. Maintain good relation, yaitu membina hubungan baik dengan siswa tidak terbatas pada bidang pendidikan formal disekolah saja, dalam arti guru pembimbing menciptakan berbagai cara tidak langsung untuk memperkenalkan layanan dan kesediaan guru untuk membimbing siswa dalam memecahkan masalah-masalah. Cara lain yang ditempuh bisa bersifat non formal seperti mengadkan rekreasi bersama antara siswa dan guru-guru pembimbing, mengadakan ceramah atau penyuluhan cara belajar mengajar dan car memanfaatkan layanan dari guru-guru sumber dan guru pembimbing (konselor). Dengan membuka ruang keakraban, siswa apabila mempunyai masalah tidak akan segan meminta bimbingan guru pembimbing atau guru BK secara sukarela dan terbuka.
  3. Developing a desire for counseling, yaitu membangun kesadaran siswa untuk merasa perlu menghubungi dan meminta bantuan guru bimbingan dan konseling. Hal ini dapat dilakukan dengan cara-cara seperti:
    – Mengadakaan tes bakat, minat atau tes inteligensi dan lainnya, dan hasilnya dibicarakan dengan siswa bersangkutan
    – Megadakan diskusi mengenai suatu masalah tertentu, contohnya tentang kesulitan dalam mempelajari bahasa asing, atau tentang masalah sosial dalam lingkungan pendidikan, dengan demikian para siswa akan tahu bahwa masalah tersebut dapat diatasi dengan bantuan guru bersangkutan, sehingga mereka akan sukarela mendatangi guru pembimbing dan melakukan bimbingan.
  4. Analisa hasil belajar siswa atau catatan harian guru kelas, dari sana dapat diketahui siswa siswa yang bermasalah, lalu siswa tersebut diberi tahu posisinya dan letak masalahnya, serta diberi bimbingan kemungkinan mencari solusinya.

[1] Robinson, F.P., (1950), Principles and Procedures in Student Counseling, N.Y. : Harper and Brother, Parts I-III.

Incoming search terms:

error: Content is protected !!